Minggu, 26 April 2015

HUKUM MEMINTA-MINTA BERDASARKAN HADITS


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Al-qur’an dan As-sunnah adalah pedoman bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan. Al-qur’an didalamnya membahas tentang berbagai hal, tidak hanya membahas mengenai manusia saja tapi juga membahas tentang hewan, tumbuhan serta makhluk ciptaan Alloh lainnya. Al-qur’an memberi tahu apa yang belum dialami ataupun yang belum diketahui oleh akal pikiran manusia. Didalamnya mengatur seluruh hal yang ada pada manusia mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar tak ada yang terlupakan. Manusia diperintahkan untuk mentaati semua perintah Alloh dan untuk menjauhi segala larangan-Nya. Dalam hal larangan, manusia harus mampu menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela, perkataan buruk maupun perbuatan tercela. Nabi Muhammad SAW menjadi tauladan bagi kita semua agar menjadi manusia yang lebih baik. Perkatan, sifat serta perbuatan Nabi Muhammad SAW harus diterapkan dalam diri manusia.
            Banyak orang dari kita yang bermalas-malasan tak ingin susah. Dengan demikian mereka mengambil jalan yang mudah bagi mereka tanpa memeperdulikan itu hal yang baik atau hal yang buruk. Sebenarnya mereka mampu jasmani dan rohaninya untuk melakukan sesuatu, namun terkadang godaan datang dengan rayuan hebat menjadikan manusia merasakan malas. Disekitar kita di lingkungan masyarakat banyak orang lebih memilih meminta-minta kepada orang lain daripada memperoleh hasil dari keringat sendiri. Mereka beranggapan dengan begitu mereka akan lebih mudah untuk memperoleh harta. Itu sebab karena mereka tidak memahami ajaran islam serta tidak memahami isi dari al-Qur’an. Sebagai seorang hamba manusia wajib memahami serta mentaati perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya agar menjadi manusia yang termasuk golongan yang mulia disisi Alloh SWt.


B. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian meminta-minta ?
2.      Apa landasan tentang larangan meminta-minta ?
3.      Bagaimana keutamaan tidak meminta-minta ?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian meminta-minta
2. Mengetahui landasan tentang larangan meminta-minta
3. Mengetahui keutamaan tidak meminta-minta


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Meminta-minta
            Mengemis atau meminta-minta dari bahasa Arab,yaitu “tasawwul ”. Ada pula istilahTasawwala  (bentuk fi’il madhy  dari  tasawwul)  artinya  meminta-minta  atau  meminta pemberian”. Sebagian ulama mendefinisikan tasawwul (mengemis) dengan upaya  meminta harta orang lain bukan  untuk  kemaslahatan  agama  melainkan  untuk  kepentingan  pribadi. Meminta-minta adalah suatu pekerjaan dimana ia cukup dengan mengulurkan tangan terhadap  perorangan atau lembaga maka dengan mudah dan cepat akan memperoleh hasil untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan agama ataupun kemaslahatan kaum muslimin. Meminta-minta termasuk dalam perbuatan yang dilarang Alloh swt. Ada beberapa faktor yang menyebabkan  orang meminta-minta, yaitu :
1.      Faktor kemiskinan, kefakiran dan ketidakberdayaan yang dialami oleh mereka yang tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dikarenakan mereka tak mempunyai keahlian khusus yang dapat menghasilkan gaji tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti halnya seorang pemungut barang bekas.
2.      Faktor krisis ekonomi yang dialami oleh orang yang mengalami kerugian besar. Seperti halnya petani yang mengalami gagal panen.
3.      Faktor musibah atau bencana yang dialami oleh seseorang atau anggota masyarakat. Karena semua harta yang dimilikinya serta barang milik mereka hilang akibat bencana tersebut maka dengan terpaksa harus meminta bantuan kepada orang lain.
4.      Mereka tidak sanggup untuk mengatasinya dikarenakan terjadi secara mendadak.
            Manusia takut akan keadaan kemiskinan dan kefakiran. Manusia tidak yakin akan janji Alloh dalam firmannya yang berbunyi : “dan tidak ada suatu bintang melatapun dibumi melainkan Alloh-Lah yang memberi rezekinya.” (QS. Huud :6). Maka dengan segala cara manusia lakukan walaupun itu menerabas aturan Alloh swt. Manusia telah membutakan mata hatinya dan pikiran sehatnya dalam mengeruk harta yang disebabkan karena selalu dihantui rasa takut serta gelisah akan kemiskinan dan kefakiran.

B. Landasan tentang Larangan Meminta-minta
            حَدِيْثُ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّم : (لَأَنْ يَحْتَتِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةًعَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌمِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًافَيُعْطِيَهُ أَوْيَمْنَعَهُ)    أخرجه البخارى فى : ۳٤- كتاب البيوع : ۱۵- باب                                                                                                      كسب الرجل و عمله بيد                                                                                                  
“Abuhurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Jika seorang itu pergi mencari kayu, lalu diangkat seikat kayu di atas punggungnya (yakni untuk dijual di pasar) maka itu lebih baik baginya daripada minta kepada seseorang baik diberi atau ditolak. (Bukhari, Muslim)”.
            Makan dari hasil meminta dalam islam hukumnya haram. Namun kenyataannya banyak orang menganggap meminta-minta adalah jalan terbaik bagi mereka. Padahal makan dari hasil keringat sendiri adalah jalan yang terbaik dan lebih mulia daripada meminta-minta. Menurut sabda Nabi saw diatas derajat seorang penjual kayu lebih tinggi daripada orang yang meminta-minta. Ajaran islam melarang perbuatan tersebut bukan hanya karena dosa tetapi juga karena merampas hak orang miskin yang membutuhkan bantuan.
            Banyak dalil yang menjelaskan tentang dilarangnya meminta-minta. Seperti berikut ini hadist tentang larangan meminta-minta, sebagai berikut :
عَنْ عُمَرَ قَالَ ؛ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
Hadits riwayat sayyidina ‘umar R.a., ia berkata : Rasulullah saw bersabda: Seorang yang selalu meminta-minta kepada orang banyak, nanti dia datang dihari kiamat dengan wajah yang tidak berdaging (karena hinanya).
            Sungguh mengerikan akibat dari perbuaan meminta-minta jika kita memahami hadist diatas. Betapa buruknya perbuatan tersebut disisi Alloh SWT di hari kiamat nanti. Kemudian dipertegas kembali dalam sabda Nabi saw yang berbunyi yang diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Barang siapa memina-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka selah-olah ia memakan bara api.” Adapun hadist yang menjelaskan bahwa meminta-minta sebagai cakaran, sebagai berikut :
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasululloh saw bersabda :
 َالْـمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِيْ أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ.

"Minta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu.”
            Jadi,sebagai seorang hamba yang bertaqwa maka kita jauhilah perbuatan meminta-minta. Menjauh dari sikap bermalas-malas dengan bersungguh-sungguh dalam bekerja yang disertai ikhtiar secara rohani dan selalu mendekatkan diri kepada Alloh swt agar dipermudahkan jalannya untuk memperoleh rizqi. Dalam suatu hadist Nabi saw bersabda :
حَدِيْثُ حَكِيْمِ ابْنِ حِزَامٍ رَضِيَ الله عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلّم، قَالَ :           (اليَدُالعُلْيَاخَيْرٌمِنَ اليَدِالسُفْلَى، وَابْدَأْبِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُالصَّدَقَةِعَنْ ظَهْرِغِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ) أخرجه البخارى فى : ۲٤- كتاب الزكاة : ۱۸- باب لاصدقة إلاعن ظهرغنى

Hakiem bin Hizam r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah dan mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah ialah yang dilakukan dalam keadaan berkemampuan dan barang siapa yang memelihara dirinya daripada meminta-minta, niscaya Allah akan memelihara kehormatannya; dan barang siapa yang merasa berkemampuan, nescaya Allah akan memberinya kecukupan.” (Muttafaq ‘alaih)
            Jadi sebagai hamba yang bertaqwa kita harus mengelola harta dengan sebaik mungkin. Kita sedekahkan harta kita untuk kebaikan dan mensyukuri apa yang telah Alloh swt berikan kepada kita baik itu dalam jumlah sedikit maupun banyak.

C. Keutamaan tidak Meminta-minta
            Nabi saw mengajarkan kepada kita supaya berusaha semaksimal mungkin mencari nafkah apa saja bentuknya, selama itu halal dan baik, tidak ada syubhat, dan tidak dengan meminta-minta. Kita juga disunnahkan untuk ta’affuf (memelihara diri dari minta-minta), sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya.

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ                                  تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ                                                                    
"(Apa yang kamu infakkan adalah) untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari minta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak minta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui" [al-Baqarah/2 ayat 273].
           
            ketika seorang anak yang minta kepada kedua orang tuanya, atau orang tua kepada anaknya, atau isteri kepada suaminya, ini tidak termasuk dalam hadits ini. Karena, orang tua wajib memberikan nafkah kepada anaknya. Jadi, kalau anak meminta kepada orang tuanya, tidak termasuk dalam hadits ini, begitu pun sebaliknya. Karena pada hakikatnya harta anak itu milik orang tuanya. Sebagian dari para sahabat adalah orang-orang miskin, tetapi mereka tidak meminta-minta kepada orang lain walaupun mereka sangat membutuhkan. Tetapi, orang-orang yang tidak mengetahui menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya disebabkan mereka menjaga kehormatan diri mereka dengan tidak meminta-minta kepada orang lain. Rasulullah saw pernah bersabda mengenai keistimewaan tidak meminta-minta yang berbunyi :                                                                                                                                                                                          قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ "Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rizki yang cukup, dan dia merasa puas dengan apa yang Alloh berikan kepadanya.”
Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud R.a., Rasulullah saw bersabda:

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ                                                                                           عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِل "Barang siapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefakirannya. Dan barang siapa yang mengadukan kesulitannya itu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat.”
            Kita lihat banyaknya kaum Muslimin sekarang ini yang tertimpa musibah dan kesulitan mereka adukan semuanya kepada orang lain. Tetapi, apabila mereka sedang mendapatkan senang dan mendapat keuntungan, mereka tidak mengadukannya kepada orang lain. Walaupun mereka mengadukan agar mendapat kasihan tetapi itu tidak dapat menutup kefakirannya. Sebaliknya jika ia merasa cukup dengan karunia yang Allah swt berikan, dan ia mengadukan segala kesulitannya kepada Allah, maka Dia akan menutupi kefakirannya itu dan akan menambah karunia yang telah diberikan-Nya kepadanya. Apabila Allah swt mentakdirkan kita mengalami kesulitan, lalu kita adukan kesulitan yang kita alami kepada Allah, maka Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar yang baik dan rizki, baik cepat maupun lambat.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Ø  Meminta-minta adalah suatu pekerjaan dimana ia cukup dengan mengulurkan tangan terhadap  perorangan atau lembaga maka dengan mudah dan cepat akan memperoleh hasil untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan agama ataupun kemaslahatan kaum muslimin.
Ø  Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.
Ø  Jangan mengadukan kesulitan yang kita alami kepada orang lain, adukanlah kesulitan kita kepada Alloh swt, Insya Alloh kita akan diberi jalan keluar yang baik.
Ø  Orang yang meminta-minta kehormatannya lebih rendah daripada seorang yang bekerja sebagai pencari kayu bakar.
Ø  Jangan takut akan kemiskinan dan kefakiran, karena Alloh swt sudah mengatur rezeki kita. Maka bersyukurlah dan qanaah terhadap apa yang telah Alloh karuniakan kepada kita.
Ø  Orang yang meminta-minta kelak di akhirat akan datang dengan wajah yang tak berdaging.
  

REFERENSI

4.      Al-qur’anul karim
5.      Raihlah hakikat jangan abaikan syari’at
6.      Shayyim,Muhammad.2010.Bila hati telah Mat.jakarta:mirqat





Minggu, 05 April 2015

ASPEK OLAHRAGA SHALAT 

            Mengutip dari buku Psikologi shalat (Dr. Sentot Haryanto,M.Si.).. Ada banyak manfaat yang dapat kita rasakan dalam shalat. Menurut Dr. H. Djamaludin ancok (1985, 1989) ancok dan suraso ( 1994) ada aspek terapeutik dalam shalat, meliputi: aspek olah raga, auto-sugesti, kebersamaan, dan unsur-unsur relaksasi kesadaran indera, aspek katarsis. Di bawah ini akan sedikit dibahas aspek olah raga dalam shalat.

       ASPEK OLAHRAGA

            Prof. Dr. HA. Saboe (1986) Hikmah kesehatan dalam shalat. Dalam tiap-tipa gerakan shalat terdapat efek bagi kesehatan, dan gerak sikap tubuh dalam shalat merupakan yang paling sempurna dalam memelihara kondisi kesehatan tubuh. Kemudian ada yang menyebutkan shalat itu membrikan 8 efek adapula yang menyebut 12/lebih efek.
            Moinuddin menjelaskan posisi berdiri tembuat tegak membuat tubuh dibebaskan dari beban. Punggung lurus akan memperbaiki postur. Pikiran dikendalikan oleh akal budi. Pandang dipertajam dengan memfokuskan pada lantai tempat sujud. Otot punggung bagiab bawah dan atas dilemaskan. Pusat otak bagian atas dan bawah dipadukan membentuk suatu kesatuan tujuan. Posisi sedakep berefek memperpanjang konsentrasi, menyebabkan pengendoran kaki dan punggung, menimbulkan perasaan kerendahan hati, kesederhanaan dan kesalehan. Dengan membaca ayat al-quran akan merangsang penyebaran 99 asmaul husna ke seluruh tubuh, pikiran dan jiwa. Suara vokalnya merangsang serta akan membersihkan dan meringankan semua organ tersebut jantung, kelenjar thyroid, kelenjar pineal, kelenjar bwh otak, kelenjar adrenal, dan paru-paru. Saat sedakep otot tangan dalam keadaan istirahat penuh. Sirkulasi darah kembali ke jantung serta produksi getah bening dan jaringan yang terkumpul dalam kantong-kantong kedua persendian menjadi lebih baik jada gerakan kedua sendi menjadi lancar dan menghindarkan diri dari timbulnya pentakit persendian, misal rematik (saboe 1986).
            Saat ruku’ otot-otot punggung bagian bawah, paha, penis jadi longgar. Darah dipompa dari batang tubuh bagian atas. Melonggarkan otot perut, abdomen dan ginjal. Menambah kepribadian, menimbulkan kebaikan hati dan keselarasan batin. Tulang-tulang punggung tetap dengan kondisi yang baik karena apersendian atar badan ruas tulang belakang tetap tinggal lembut dan lentur. Dan mempermudah atau menghindari kesulitan persalinan bagi ibu hamil. Menyembuhkan penyakit kerekutan atau bengkoknya tulang punggung (saboe 1986). Posisi i’tidal berefek darah segar naik ke batang tubuh pada postur sebelumnya kembali ke keadaan semula dengan membawa toksin, tbuh santai kembali dan melepaskan ketegangan. Posisi sujud dr lutut yg menyudut memungkinkan otot-otot perut berkembang dan mencegah  (kegombyoran) bagian tengah. Menambahkan aliran darah ke bagian atas tubuh, terutama kepala ( mata, telinga, hidung) serta paru-paru memungkinkan toksin dibersihkan oleh darah.mempertahankan posisi benar  dari janin wanita hamil. Mengurangi hipertensi. Menambah elastisitas tulang itu sendiri. Menghilangkan egoisme dan kesombongan. Meningkatkan kesabaran dan kepercayaan kepada Tuhan. Menaikkan stasiun ruhani dan menghasilkan energi batin yang tinggi ke seluruh tubuh. Menunjukan ketundukan dan kerendahan hati yangg tertinggi dan ini adalah esensi dari shlalat.
            Saat meletakkan telapak tangan di samping lutut dan  semua otot akan kontraksi, otot tidak hanya menjadi besar dan kuat tapi urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah balik serta urat-urat getah bening akan terpijit dan terurut, jadi peredaran darah  dan limpha akan lancar, &dan membantu pekerjaan jantung dan menghindarkan pengerutan dinding-dinding pembuluh darah akan menghasilkan energi panas yang diperlukan proses perencanaan makanan yang diperlukan oleh tubuh sebagai zat hidrat arang, zat telor, lemak, vitamin, garam, besi, kapur, fosfor dan zat cair serta lainya, aliran darah akan semakin lancar untuk membuat zat-zat kotor yang asalnya dari zat makanan tersebut.(saboe 1986). Posisi duduk  bagi laki-laki saat tumit kanan ditekuk dan bobot kaki serta bagian tubuh bertumpu pada tumit kaki tersebut akan membantu menghilangkan efek racun pada hati dan merangsang gerakan peristaltik usus besar. Pada wanita saat kedua kaki disatukan di bawah tubuhnya membuat tubuh kembali keposisi pengendoran yang besar dan membantu pencernaan dengan mendesak turun ke perut. Posisi pengulangan sujud lama akan membersihkan sistem pernapasan, peredaran darah dan syaraf. Merasakan keringanan tubuh dan kegembiraan emosional. Penyebaran oksigen ke seluruh tubuh lebih lancar dan menyeimbangkan sisten syaraf simpatik dan pra-simpatik.

            Posisi sikap duduk iftirosyi (tahyat 1) dpt menghindarkan atau menyembuhkan penyakit syaraf pangkal paha yg terasa sakit, nyeri, sengal... (saboe 1986). Jadi semakin sering mengerjakan shalat akan semakin rendah kecemasannya dan akan menjaga kesehatannya.

           Subahnallah. Masih banyak lagi rahasia dari shalat yang belum terbahas dan belum kita ketahui. Demikianlah sedikit uraian dari saya tentang manfaat dari shalat.  Semoga uraian diatas bermanfaat.. amiin.
Wassalamu'alaikum,,,,